Apa Hari Raya Nyepi Itu? Yuk Cari Tahu Asal Mulanya dan Sikapi Maknanya

Jika orang Tionghoa memiliki hari raya bernama Imlek di tahun baru di penanggalan Tionghoa, maka dalam agama Hindu terdapat hari raya nyepi di penanggalan tahun barunya yang bernama Saka. Kalender Saka merupakan sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah (candra-surya) atau kalender luni-solar. Era Saka dimulai pada tahun 78 Masehi (Sumber:Wikipedia).

Seperti yang kita ketahui bahwa agama Hindu yang ada di nusantara berasal dari India dengan kitab suci bernama Weda. Menurut cerita, negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan pada awal abad masehi bahkan sebelumnya.

Pertikaian yang panjang antara suku bangsa di India diantaranya Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya. Pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I dan dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.

Baca Juga : Melihat Indonesia Masa Kini Dari Mata Milenial

Oleh sebab itu, sejak tahun 78 Masehi ditetapkanlah adanya Tarikh atau perhitungan tahun Saka. Bulan dalam penanggalan tahun Saka berjumlah 12 Bulan, sama halnya seperti tahun Masehi diawali dengan nama Caitramasa pada bulan pertama. Bertepatan pada bulan Maret Tarikh Masehi.

Tahun Baru Saka memiliki makna hari kebangkitan, pembaharuan (persatuan dan kesatuan), bertoleransi, kedamaian serta kerukunan. Sejak itu pula kehidupan dalam bernegara, bermasyarakan dan beragama di tata ulang dan disebar-luaskan ke seluruh tanah India dan daratan asia lainnya termasuk Indonesia. Dan saat itu pula perayaan hari raya Nyepi di adakan di Indonesia dengan melihat penaggalan tahun Saka/Caka.

Tidak seperti perayaan tahun baru dan hari raya lainnya yang berlangsung semarak dan perlihatkan kegembiraan, perayaan Hari Raya Nyepi sangatlah berbeda. Tahun Baru Saka dimulai dengan kegiatan menyepi, yakni tidak ada aktivitas yang berlangsung seperti biasanya. Hal tersebut sangat jelas tergambarkan pada daerah Bali yang dominan masyarakatnya menganut agama Hindu.

Kegiatan sehari-hari ditiadakan saat hari raya berlangsung termasuk pada pelayanan fasilitas umum seperti bandara, perkantoran dan lainnya, kecuali rumah sakit.

Nyepi memiliki makna yang berarti sepia tau sunyi. Maksud dari Nyepi tersebut untuk menciptakan suasana yang sepi, sunyi penuh dengan kedamaian dan menghindari dari nafsu yang bersifat duniawi.  Dengan kondisi tenang dan damai, seluruh umat Hindu sekaligus memohon kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) untuk melakukan penyucian Buana Alit (Manusia) serta Buana Agung (alam beserta isinya).

Klik tombol dibawah ini untuk melihat halaman selanjutnya.